Selasa, 09 Februari 2010

Hubungan Sex Remaja PraNikah

Posted by omrudy in


Remaja kota kini semakin berani melakukan hubungan seksual pranikah. Nampaknya hal itu berkaitan dengan hasil sebuah penelitian, 10 – 12% remaja di Jakarta pengetahuan seksnya sangat kurang. Ini mengisyaratkan pendidikan seks bagi anak dan remaja secara intensif terutama di rumah dan di sekolah, makin penting.

Pengetahuan yang setengah-setengah justru lebih berbahaya ketimbang tidak tahu sama sekali. Kata-kata bijak ini nampaknya juga berlaku bagi para remaja tentang pengetahuan seks kendati dalam hal ini ketidaktahuan bukan berarti lebih tidak berbahaya. Data yang dikumpulkan dr. Boyke Dian Nugraha, DSOG, ahli kebidanan dan penyakit kandungan pada RS Dharmais, menunjukkan 16 – 20% dari remaja yang berkonsultasi kepadanya telah melakukan hubungan seks pranikah. Dalam catatannya jumlah kasus itu cenderung naik; awal tahun 1980-an angka itu berkisar 5 – 10%.


Sementara itu Dra. Yulia S. Singgih Gunarsa, psikolog dan konselor di sebuah sekolah swasta di Jakarta, juga melihat fenomena banyaknya pasangan remaja yang berhubungan dengan calo jasa pengguguran kandungan di Jakarta Pusat dan penggunaan obat-obat pencegah kehamilan.

Data tersebut mungkin tidak mewakili kenyataan sebenarnya, yang bisa menunjukkan angka lebih tinggi atau lebih rendah. Namun setidaknya kasus hubungan seksual pranikah itu ada hubungannya dengan hasil suatu penelitian para dokter di Jakarta. Seperti dikutip Boyke, 10 – 12% remaja di Jakarta pengetahuan seksnya sangat kurang.

Dalam kaitan dengan hubungan seksual, bisa diambil contoh ada remaja yang berpendapat, kalau hanya sekali bersetubuh, tidak bakal terjadi kehamilan. Atau, meloncat-loncat atau mandi sampai bersih segera setelah melakukan hubungan seksual bisa mencegah kehamilan.

Pengetahuan seks yang hanya setengah-setengah tidak hanya mendorong remaja untuk mencoba-coba, tapi juga bisa menimbulkan salah persepsi. Misalnya saja, berciuman atau berenang di kolam renang yang “tercemar” sperma bisa mengakibatkan kehamilan, mimpi basah dikira mengidap penyakit kotor, kecil hati gara-gara ukuran penis kecil, sering melakukan onani bisa menimbulkan impotensi.

Beberapa akibat yang tentunya memprihatinkan ialah terjadinya pengguguran kandungan dengan berbagai risikonya, perceraian pasangan keluarga muda, atau terjangkitnya penyakit menular seksual, termasuk HIV yang kini sudah mendekam di tubuh ratusan orang di Indonesia. Bandingkan dengan temuan Marlene M. Maheu, Ph.D., psikolog yang berpraktek di Kalifornia, AS, bahwa setiap tahun terdapat 1 dari 18 gadis remaja Amerika Serikat hamil sebelum nikah dan 1 dari 5 pasien AIDS tertular HIV pada usia remaja.

Dibentak ortu
Melihat kenyataan itu, pendidikan seks secara intensif sejak dini hingga masa remaja tidak bisa ditawar-tawar lagi. Apalagi mengingat, “Sebagian besar penularan AIDS terjadi melalui hubungan seksual,” tegas Boyke yang juga pengasuh rubrik konsultasi seks di majalah dan radio. Kalau tidak, mereka yang kini remaja tidak bisa berbuat banyak saat memasuki usia produktif di abad XXI mendatang.

Seperti dikutip Boyke, survai oleh WHO tentang pendidikan seks membuktikan, pendidikan seks bisa mengurangi atau mencegah perilaku hubungan seks sembarangan, yang berarti pula mengurangi tertularnya penyakit-penyakit akibat hubungan seks bebas.

Disebutkan pula, pendidikan seks yang benar harus memasukkan unsur-unsur hak azasi manusia. Juga nilai-nilai kultur dan agama diikutsertakan di dalamnya sehingga akan merupakan pendidikan akhlak dan moral juga. Dengan itu diharapkan angka perceraian yang berdampak kurang baik terhadap anak-anak pun dapat dikurangi.

Hanya yang jadi soal hingga kini, “Pendidikan seks di Indonesia masih mengundang kontroversi. Masih banyak anggota masyarakat yang belum menyetujui pendidikan seks di rumah maupun di sekolah,” tutur dr. Gerard Paat, kolsultan keluarga RS Sint Carolus.

Sekalipun untuk tujuan pendidikan, anggapan tabu untuk berbicara soal seks masih menancap dalam benak sebagian masyarakat. Akibatnya, anak-anak yang berangkat remaja jarang yang mendapat bekal pengetahuan seks yang cukup dari ortu (orang tua). Padahal tidak jarang para remaja sendiri yang berinisiatif bertanya, tapi justru sering disambut dengan “kemarahan” ortu. “Boro-boro mau ngejelasin soal seks, baru nanya sedikit aja, nyokap (ibu) sudah mbentak, ‘Eh itu tabu, jangan diomongin!’” aku seorang remaja putri.

Bahkan anak-anak yang kedua orang tuanya bekerja rata-rata kehilangan panutan. “Orang tua yang mestinya menjadi tokoh panutan utama, justru kurang berperan karena kesibukan mereka sendiri,” kata dr. Paat, yang sejak akhir tahun 1960-an memberikan penyuluhan seks di sekolah dan luar sekolah.

Film, buku, dan motel
Dampaknya tentu bisa ke mana-mana. Antara lain dalam memilih konsumsi tontonan di TV yang masih berat dengan tayangan film barat dengan budaya dan gaya hidup yang berbeda. Kehidupan dunia barat yang digambarkan dalam film ataupun video, menurut Boyke, sering kali menunjukkan kehidupan seks bebas di kalangan remaja. Tayangan serial macam Beverly Hills atau Bay Watch, Boyke menyebut contoh, dengan bintang-bintang molek dan tampan itu mudah sekali merasuk ke dalam benak remaja. Sehingga mereka bisa amat mudah meniru gaya hidup muda-mudi dalam film itu.

“Justru ketika informasi seperti itu tidak bisa kita hindari, peranan orang tua untuk memberikan pengertian yang benar pada anak-anak menjadi penting,” tutur Boyke.

Minimnya pengetahuan seks masih ditambah lagi dengan mudahnya mendapatkan prasarana untuk melakukan seks bebas seperti di motel, cottage, vila; alat kontrasepsi; lebih mudanya rata-rata gadis mendapatkan haid (9 – 11 th); serta tertundanya usia perkawinan. Semua itu juga faktor yang ikut mempengaruhi remaja melakukan kegiatan seks bebas dan kumpul kebo.

Celakanya, “Remaja yang sudah terbiasa mengadakan hubungan seksual akan sulit menghentikannya,” jelas Paat. Itu bukan semata-mata karena faktor ketagihan, tapi terutama akibat timbulnya persepsi bahwa melakukan hubungan seksual sudah merupakan hal biasa.

Kalau itu sampai terjadi, ortu harus ikut bertanggung jawab. “Orang tualah yang seharusnya pertama-tama memberikan pengetahuan seks bagi anak-anaknya. Informasi seks dari teman, film, atau buku, yang hanya setengah-setengah tanpa pengarahan, mudah menjerumuskan. Apalagi kalau si anak tidak tahu risiko melakukan hubungan seksual pranikah,” kata Boyke.

Menurut Paat, pendidikan seks pasif, karena tanpa komunikasi dua arah semacam itu, sudah bisa mempengaruhi sikap serta perilaku seseorang. “Dalam pendidikan seks anak tidak cukup hanya melihat dan mendengar sekali-dua kali, tapi harus dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan,” katanya. Sebab itu, pendidikan seks hendaknya menjadi bagian penting dalam pendidikan di sekolah. Orang tua dan pendidik wajib meluruskan informasi yang tidak benar disertai penjelasan risiko perilaku seks yang salah.

Namun, pendidikan seks di sekolah mestinya hanya pelengkap pendidikan seks di rumah. Bukan justru menjadi yang utama seperti terjadi selama ini, kendati pendidikan seks di sekolah, menurut beberapa pengamat tadi, masih belum optimal.

Pacaran jangan dilarang
Pemberian pengetahuan seks mesti di rumah dilakukan sejak dini dan dimulai dengan perilaku keseharian anak-anak. Ketika masih anak-anak misalnya, berikan pengertian kepada mereka agar tidak ke luar dari kamar mandi sambil telanjang, menutup pintu kamar mandi ketika sedang mandi, mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk kamar ortu.

Ketika sudah menginjak bangku SD, remaja putri khususnya, mesti sudah dipersiapkan menghadapi masa akil balik. Pada usia sekitar 14 tahun, remaja putri maupun putra rata-rata mulai ingin tahu segala sesuatu tentang lawan jenisnya. “Ini merupakan proses pendewasaan diri, dan tak bisa dicegah,” tegas Boyke. Di sinilah ortu mesti mulai lebih sering mengadakan pendekatan dan memasukkan nilai-nilai moral kepada anak.

Pada saat mereka mulai berpacaran di usia yang sudah cukup, kata Boyke, tak perlu dilarang-larang. Berpacaran merupakan latihan pendewasaan dan pematangan emosi. Dengan berpacaran mereka bisa merasakan rasa rindu atau rasa memiliki, dan berlatih bagaimana harus ber-sharing dengan pasangan. Pada masa ini orang tua remaja putri hendaknya berperan menjadi teman berdiskusi sambil meneliti siapa pacarnya itu.

Dalam hal ini dibutuhkan komunikasi lebih terbuka antara ortu-anak. Melalui komunikasi, yang acap kali banyak diabaikan peranannya, ortu dapat memasukkan hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Misalnya, batas mereka boleh bermesraan dan apa konsekuensinya kalau batas itu dilanggar. Kepercayaan dari ortu akan membuat mereka lebih bertanggung jawab.

Berpacaran secara sembunyi-sembunyi akibat tidak diberi kepercayaan justru tidak menguntungkan. “Ingat, kasus-kasus kehamilan pranikah umumnya dilakukan oleh mereka yang back street,” kata Boyke. “Mungkin juga akibat hubungan dengan orang tua kurang akrab atau orang tua terlalu kaku.”

Dr. Paat maupun dr. Boyke menyatakan, penjelasan mengenai risiko melakukan hubungan seksual pranikah perlu ditekankan. Umpamanya, kehamilan, kemungkinan terinfeksi HIV atau tertular penyakit kelamin kalau bergonta-ganti pasangan. Bila terjadi kehamilan dan kandungan terpaksa digugurkan, mereka menghadapi kemungkinan perdarahan, infeksi, kemandulan, bahkan kematian. Belum lagi stres atau rasa berdosa yang bakal dihadapi si anak. Juga diingatkan, dengan anak yang mereka lahirkan di luar nikah, mereka juga yang mesti bertanggungjawab sebagai ayah dan ibunya. Jangan lupa pula, “Jagalah agar jiwa mereka tidak banyak terganggu, apalagi selama mereka masih belum dewasa, masih harus sekolah, dan lain-lain,” tambah Yulia.

Kapan saja, di mana saja
Penjelasan yang baik mampu membuka mata mereka betapa melakukan hubungan seksual pranikah itu tidak ada untungnya. Ini misalnya terbukti ketika dr. Boyke membagikan kuesioner kepada peserta seminar remaja. Jawaban mereka sebelum dan sesudah mendengarkan ceramah bertolak belakang. Sebelum seminar, mereka rata-rata menyetujui hubungan seksual sebelum nikah. Tapi sesudahnya, 90% peserta menyatakan tidak setuju. Juga terungkap, mereka setuju adanya pendidikan seks, hanya tidak tahu harus ke mana memperolehnya.

Penyampaian materi pendidikan seks di rumah sebaiknya dilakukan kedua orang tua. “Sebelum usia 10 tahun pendidikan bisa diberikan secara bergantian, tapi umumnya ibu yang lebih berperan,” kata Paat. Menjelang akil balik, saat sudah terjadi proses diferensiasi jenis kelamin dan mulai muncul rasa malu (pada wanita mengalami haid, pertumbuhan payudara, dan pada laki-laki mengalami mimpi basah dan perubahan suara), sebaiknya ibu memberi penjelasan kepada anak perempuan dan ayah kepada anak laki-laki. “Sekali waktu boleh diadakan komunikasi silang. Misalnya, kepada anak perempuannya seorang ayah dapat berdiskusi bagaimana perasaan-perasaan pria bila jatuh cinta, atau sebaliknya kepada anak laki-lakinya, ibu bisa mengungkapkan bagaimana perasaan seorang wanita bila didekati pria.”

Menjelaskan tentang seks juga tidak perlu secara eksklusif. Itu bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Saat sedang sibuk memasak, misalnya, tiba-tiba si anak bertanya tentang kehamilan. Sang ibu tidak perlu menangguhkan jawaban atau menjanjikan jawaban akan diberikan panjang lebar di kamar, tapi bisa langsung saat itu juga. Tindakan eksklusif, menurut Paat, malah membuat si anak bisa berkesimpulan, seks merupakan sesuatu yang luar biasa dan harus dirahasiakan. Padahal pertanyaan seperti itu lumrah dan merupakan bagian dari kehidupannya.

“Kalau anak kita sama sekali tidak pernah bertanya soal seks, jangan dikira pasti beres. Coba pancinglah dengan buku,” jelas Paat. “Keterangan dalam buku yang kurang jelas bisa didiskusikan dengan orang tua,” tambah Boyke.

Di RT pun bisa
Pendidikan seks di sekolah, demikian Yulia dan Paat, hendaknya tidak terpisah dari pendidikan pada umumnya, dan bersifat terpadu. Ia bisa dimasukkan ke dalam pelajaran ilmu biologi, kesehatan, moral dan etika secara bertahap dan terus menerus. Mereka juga mensyaratkan penekanan pada pendidikan moral, meski tidak perlu sedetail pendidikan agama, agar pendidikan seks diterima murid sebagai suatu ilmu yang tidak untuk dipraktekkan sebelum waktunya.

Sekali waktu penyuluhan seks juga perlu diadakan. Misalnya, soal menghadapi masa haid dan mimpi basah bisa diberikan kepada anak kelas VI SD, proses terjadinya bayi (spermatozoa bertemu dengan sel telur) mulai diberikan kepada murid SLTP. Selanjutnya masalah kebebasan seks, alat kontrasepsi sampai hubungan seks (bukan tekniknya) diberikan kepada anak SLTA.

Menurut Yulia, penjelasan tentang program pendidikan seks yang hendak disampaikan kepada murid perlu juga diketahui orang tua murid. Maksudnya, agar mereka bisa memberi jawaban dan tidak terkejut bila tiba-tiba si anak atau remaja bertanya soal seks kepada mereka. “Karena, kadang-kadang ada anak yang dengan begitu bangga bercerita tentang pengetahuan seks yang baru diberikan di sekolah,” tutur Yulia.

Dr. Paat dan dr. Boyke saling berbeda pendapat dalam soal penyampaian informasi tentang alat kontrasepsi. “Alat kontrasepsi macam kondom bukan rahasia lagi, karena dapat dibeli di mana-mana. Yang penting, mereka diberi penjelasan bahwa pemakaian sebelum menikah merupakan pelanggaran nilai-nilai moral dan agama,” kata Paat. Sedangkan Boyke kurang setuju memperkenalkan pemakaiannya kepada remaja, karena khawatir disalahgunakan.

Lebih tepat, kata Paat, kalau tema penyuluhan didasarkan pada pendekatan pemecahan masalah (problem solving approach), yakni penyuluhan disertai kesempatan berkonsultasi dengan guru, konsultan psikologi di sekolah, atau guru agama. Pasalnya, masalah yang dihadapi setiap murid berbeda-beda.

Dalam hal ini Dra. Yulia menganggap penting peran guru bimbingan dan penyuluhan (BP). Guru-guru ini tak cuma sebagai guru BP, tapi juga mesti tahu soal pendidikan seks. “Kadang-kadang murid segan bertanya kepada orang tua. Atau, pernah bertanya malah dimarahi bapak atau ibunya,” jelas Yulia. Dengan adanya kesempatan berkonsultasi, si anak bisa mengutarakan masalah pribadinya.

Selain di sekolah, “Di tingkat RT pun sebetulnya bisa sekali waktu diselenggarakan ceramah tentang seks bagi para orang tua atau remaja dengan bantuan dokter Puskesmas untuk mengisi kekosongan itu,” kata Boyke.

Usul itu boleh juga. Bagaimanapun pendidikan seks bukan semata-mata tanggung jawab orang tua dan pendidik, tetapi juga masyarakat. (Nanny Selamihardja/I Gede Agung Yudana)

Sumber : www.pusatartikel.com


Bicara Seks pada Anak

Posted by omrudy in


Untuk urusan seks, anak bisa mendapatkan informasi dari mana saja dan kapan saja. Walaupun mereka terlihat tidak peduli, tidak berarti mereka tidak bingung dengan apa yang mereka lihat dan dengar. Lantas, bagaimana sebaiknya orangtua bersikap? Kuis ini bisa jadi panduan Anda.

1. Anda sedang menonton televisi dengan si kecil yang berusia 6 tahun. Tiba-tiba muncul iklan yang memperlihatkan sepasang pria dan wanita berpakaian sensual di tempat tidur. Hal ini menggugah rasa ingin tahu anak. Anda:

a. Segera mengganti saluran teve sebelum dia mengajukan pertanyaan yang memalukan.

b. Mengatakan betapa tidak bertanggungjawabnya televisi dengan memunculkan adegan seperti itu pada sore hari.

c. Bertanya kepada anak, bagaimana pendapatnya mengenai adegan yang baru saja Anda berdua lihat.


Jawaban yang tepat: C

Memang betul, hal ini memalukan sekaligus memprihatinkan. Namun inilah yang disebut oleh para pendidik seks sebagai “saat yang tepat untuk mengajarkan”, yaitu kesempatan untuk mengetahui apa yang ada dalam pikiran anak dan mengarahkannya ke arah yang benar.

Tidak perlu memberikan reaksi yang terlalu cepat atau sama sekali memadamkan reaksi si kecil. Memindahkan saluran? Jangan lupa, anak Anda akan selalu dapat melihat adegan syur di layar televisi pada saat Anda tidak ada. Oleh karena itu, ambil kesempatan ini untuk membahas apa yang Anda berdua lihat.

2. Si kecil yang baru berusia 4 tahun melihat seorang wanita hamil dan bertanya pada Anda, bagaimana wanita tersebut dapat hamil. Anda mengatakan:

a. Tuhan memberinya seorang bayi baru.

b. Wanita tersebut hamil karena dia berhubungan seks dengan seorang pria.

c. Bahwa sperma seorang pria bersatu dengan telur wanita tersebut dan menimbulkan kehidupan (lalu tunggu dan lihat apakah si kecil mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikutnya).

Jawaban yang tepat: C

Aturan main dalam mengatasi pertanyaan yang sulit dari anak yang masih kecil adalah dengan memberikan jawaban yang sesederhana mungkin, lalu lihat pertanyaan berikut yang diajukannya. Orangtua cenderung memberi penjelasan yang berlebihan kepada anak-anak dan kenyataannya anak-anak tidak selalu ingin tahu. Bisa jadi, keterangan yang diberikan tidak atau belum mampu untuk dimengerti oleh mereka.

3. Anak Anda yang berusia 15 tahun mendengar masalah perselingkuhan dipergunjingkan. Anak Anda bertanya, “Mengapa orang-orang sangat mempermasalahkannya?” Reaksi Anda:

a. Merasa terganggu dan menjelaskan konsep mengenai pelecehan seksual.

b. Merasa terganggu dan menjelaskan kepadanya mengenai masalah kesetiaan, pelecehan seksual, dan mengapa seorang atasan tidak boleh berhubungan seks dengan pegawai/bawahannya.

c. Bertanya kepadanya, mengapa dia menganggap hal tersebut merupakan hal yang sepele, baru kemudian Anda kemukakan pendapat Anda mengenai nilai-nilai perkawinan dan menjelaskan kepadanya mengapa Anda memiliki dia.

Jawaban yang tepat: C

Walaupun Anda sangat ingin menjelaskan kepadanya tentang nilai-nilai perkawinan, kesetiaan, pelecehan seksual, dan hubungan yang wajar antara atasan dan pegawainya, adalah lebih penting bagi Anda untuk mengetahui, mengapa menurut pendapatnya hal tersebut merupakan hal sepele. Jangan hentikan diskusi hanya dengan anggapan pemikiran Anda yang benar.

4. Anda melihat anak Anda yang berusia 13 tahun sedang men-download gambar porno dari internet. Yang Anda lakukan:

a. Menghormati keleluasaan pribadinya dan berpura-pura tidak melihat apa yang Anda lihat.

b. Duduk dan bertanya kepadanya, apa yang dilihatnya dan mengapa dia tertarik dengan gambar-gambar tersebut.

c. Mematikan komputer dan memindahkan komputer dari kamar tidurnya.

Jawaban yang tepat: B

Jangan menghindar untuk membahas apa yang Anda lihat atau mematikan/memindahkan komputer. Sebaliknya, bicarakan dan hindari sikap menghakimi. Anda perlu tahu mengapa dia tertarik dengan gambar-gambar tersebut. Mungkin sebagai ABG alias anak baru gede, dia baru mulai tertarik pada lawan jenisnya. Tetapi bila gambar-gambar yang dilihatnya merupakan gambar-gambar yang sangat mengganggu moralitas, Anda sangat perlu membahasnya dengan serius atau bila perlu membawanya kepada psikiater atau psikolog.

5. Tiba-tiba saja, entah tahu dari mana, si kecil bertanya apa arti “oral seks”. Jawaban Anda:

a. “Kata-kata tersebut merupakan istilah yang menjijikkan. Jangan pernah diucapkan lagi.”

b. “Istilah yang digunakan untuk kebiasaan seksual yang dilakukan oleh orang dewasa. Nanti kalau kamu sudah lebih besar lagi, Ayah/Ibu akan jelaskan lebih detail.”

c. “Kata-kata tersebut merupakan istilah kotor untuk tindakan seksual yang dilakukan oleh orang dewasa.” Bila dia terus mencecar, jelaskan padanya bahwa hal itu berarti seseorang yang meletakkan mulutnya pada alat kelamin seseorang.

Jawaban yang tepat: C

Sangat sulit untuk menggambarkan tindakan seksual orang dewasa. Namun bila anak Anda “memaksa”, Anda perlu mengatakan apa artinya. Karena bila tidak, dia akan mendapatkan informasi yang salah dari orang lain, entah itu teman, pengasuh, atau sepupunya. Jelaskan padanya dengan seksama apa yang ingin diketahuinya. Katakan hal yang sebenarnya agar dia percaya pada Anda.

6. Anak laki-laki Anda yang belum memasuki usia remaja mengalami beberapa perubahan fisik. Anda:

a. Membelikannya buku yang menjelaskan apa yang terjadi pada tubuhnya.

b. Membelikannya buku yang menjelaskan apa yang terjadi pada tubuhnya, lalu membahasnya bersama dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mungkin diajukannya.

c. Membelikannya buku dan membahas perubahan yang terjadi pada tubuhnya dan membiarkannya membacanya sendiri.

Jawaban yang tepat: C

Anak Anda yang berusia 11 tahun mungkin masih terlalu muda untuk mau membicarakan masalah pribadinya. Bila dia menolak, biarkan. Tetapi bila dia membaca buku tersebut bersama Anda, pastikan Anda dapat menjawab pertanyaan yang diajukannya.

7. Anak gadis Anda yang berusia 15 tahun bertutur, beberapa teman laki-lakinya menyebut sahabat wanitanya perek. Sahabat wanitanya marah dan bingung harus bersikap bagaimana. Anda:

a. Menerangkan kepadanya apa arti seorang sahabat sejati dan memintanya untuk tidak ikut-ikutan menyebarkan gosip tidak baik.

b. Cari tahu terlebih dahulu apakah sahabat wanitanya aktif secara seksual sebelum memberinya nasihat.

c. Mengatakan kepadanya mengapa menyebarkan gosip sangat tidak baik dan menyarankan kepadanya untuk tidak terlibat karena akan mengganggu reputasinya.

Jawaban yang tepat: A

Hal ini selain penting untuk mengetahui lebih rinci mengenai sahabat wanitanya, juga merupakan saat yang tepat untuk membicarakan pentingnya arti persahabatan, kehormatan, kepercayaan, dan kesetiaan. Gosip sangat menyakitkan dan merusak reputasi seseorang. Orang tua dapat mengambil kesempatan dalam situasi ini untuk membantu anak-anaknya mengerti mengapa kebiasaan bergosip tidak baik.

8. Anak laki-laki Anda menyebut temannya dengan sebutan banci. Reaksi Anda:

a. Tidak mengatakan apa-apa.

b. Bertanya kepadanya apakah dia mengerti artinya. Bila dia tidak mengerti, Anda memberi penjelasan.

c. Membicarakan mengenai perbedaan, cara menghargai orang lain, dan mengapa istilah tersebut tidak baik.

Jawaban yang tepat: C

Kata-kata dapat menimbulkan kebencian, bahkan kejahatan. Jelaskan pada anak dan biarkan dia berpikir, apa artinya mempermalukan dan bagaimana rasanya dipermalukan.

9. Sepulangnya dari pesta, Anda melihat ada bekas gigitan/ciuman berwarna merah di leher gadis Anda yang berusia 14 tahun. Anda:

a. Tidak mempedulikan.

b. Memanggilnya, mengajaknya duduk bersama, dan dengan marah menanyakan kepadanya apa yang telah terjadi.

c. Mengajaknya bicara mengenai keamanan seksual dan mencari tahu apakah dia memerlukan lebih banyak informasi dan tuntunan dari Anda.

Jawaban yang tepat: C

Tunjukkan pada anak, Anda tahu apa yang terjadi dan bicarakan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan seks seperti perasaan, nilai-nilai, kesehatan, dan keamanannya. Bila Anda memberikan respons marah atau tak acuh sama sekali, berarti Anda menutup komunikasi antara Anda dan anak Anda.

kompas.com




JIKA biasanya ejakulasi dini (edi) banyak dialami pria, kaum hawa pun bisa mengalami hal serupa. Lantas, bagaimana cara mewujudkannya? Ejakulasi dini pada wanita memang belum umum terjadi. Tapi nyatanya, edi bukan dominasi kaum adam semata, wanita pun dapat merasakannya saat awal senggama. Nah lho!

Bila wanita mendapatkan ejakulasi dini di awal ajang pergumulan, ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi pria. Mengapa? Karena ejakulasi dini pada wanita berbeda dengan orgasme.

Umumnya, ketika mengalami edi bagi pria, tak lama kemudian dia dapat mencapai orgasme. Namun, tak begitu pada wanita. Kedua hal ini tidak sama dan terpisah. Ejakulasi dini pada wanita memiliki jeda waktu sampai menjelang puncak kenikmatan (orgasme).


Sedangkan pria mengalami edi dan orgasme dalam selang waktu yang relatif dekat. Bahkan tak jarang, bersamaan. Jika Anda ingin membuat pasangan mengalami ejakulasi dini, Anda membutuhkan metode bagaimana bisa membuat si dia edi.

Pasalnya, berdasarkan berita yang dirangkum dari Askmen, tidak semua wanita dapat dengan mudah meraih ejakulasi. Jadi, jangan menyerah jika usaha Anda nantinya masih mengalami kegagalan.

Semua wanita memiliki anatomi biologis untuk mengalami ejakulasi. Sehingga, sangat mungkin jika pasangan Anda juga dapat merasakannya. Namun, jika otot panggul si dia tak cukup tangguh, ini dapat mempersulitnya untuk mencapai ejakulasi dini. Belum lagi jika pasangan mengalami kesulitan mengatur pernapasan ketika bercinta, sehingga dia kurang relaks menjalaninya.

Dalam berhubungan intim, hal-hal yang bersifat visual sangat memegang peran penting. Saat foreplay, hal-hal visual memenuhi hampir 70 daya rangsang. Karena itu, rangsangan lebih pada wanita dapat membuat dia mudah mengalami edi.

Jangan fokus hanya pada penetrasi diri sendiri, berikan si dia sentuhan, rabaan, ciuman, dan beragam rangsangan lainnya yang bisa membuat si dia bergetar hebat. Komunikasi juga memegang peranan penting di sini. Anda bisa menuntunnya menuju ejakulasi dini dan orgasme lewat rayuan. Sebab, wanita sejatinya makhluk audio yang begitu senang dipuji.

Bagaimana, siap membuatnya ejakulasi dini?

http://selaputperawan.blogspot.com




Rasa iri memang wajar dimiliki setiap orang. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa sampai pada tahap di mana rasa irinya hilang lenyap. Bagi sebagin orang, bila rasa iri itu di’pelihara’ dengan benar, malah dapat jadi cambuk untuk hidup lebih maju.

Namun, umumnya rasa iri bersifat merusak. Bila Anda tak bisa menghindari rasa iri seperti ini, yang terus saja mengalir dalam peredaran darah Anda, terimalah itu sebagai emosi yang biasa dirasakan setiap insan. Seperti juga ketika Anda melakukan kebaikan dan Anda merasa senang, cobalah menganggap rasa iri sebagai emosi yang ‘lebih bisa diterima’.

Langkah pertama untuk mengatasinya adalah, buanglah segala kebencian yang menyelinap di dada.
Berhentilah mendoakan orang lain yang jelek-jelek – misalnya, berharap agar ia tak memiliki apa yang Anda inginkan, atau berharap dia kehilangan sesuatu.


Setelah itu, Anda bisa melangkah ke tahap selanjutnya, yaitu penghargaan.
Belajarlah untuk mengagumi dan menghargai orang lain, tanpa harus mengasosiasikannya dengan keadaan Anda (yang mungkin gundah gulana dan merasa paling inferior sedunia). Bila Anda mengagumi seseorang, dengan mudah Anda akan ‘membiarkannya’ memiliki lebih banyak, tanpa merasa Anda memiliki lebih sedikit.

Langkah terakhir, beranjaklah dari penghargaan menuju ‘persaingan’.
Tentu, dalam arti yang positif. Dengan mengembangkan kualitas-kualitas yang membuat orang lain enviable alias patut disiriki, Anda akan bangga pada diri sendiri. Ketahuilah, Anda tak akan mungkin merasa iri dan bangga pada saat bersamaan. Bila Anda menggunakan rasa iri untuk memberi ‘bensin’ pada motivasi Anda, rasa iri tak akan ‘mengatur’ kehidupan Anda.

Segera setelah Anda menyadari rasa iri itu, berhenti dan merenunglah sejenak. Jangan bikin aksi atau tindakan impulsif yang bertentangan dengan diri Anda. Kalau Anda mendapatkan diri Anda merasa dengki pada orang lain, ingatlah bahwa Anda bukan setan. Anda cuma merasa kehilangan, dan sedang mencoba untuk meringankan penderitaan sebisa mungkin.

Karena itu, cobalah untuk mengenal orang-orang yang enviable itu. Temukan fakta akan kehidupannya – yang tidak semuanya ‘terang benderang’. Pasti tidak banyak rasa iri lagi dalam diri Anda. Dan Anda sendiri, akan jauh lebih dewasa, mampu mengembangkan kualitas diri Anda sampai ke level yang (siapa tahu), bikin orang lain iri. (hannie k.wardhanie)

http://4moslem.blogspot.com/


4 Hal Romantis Bagi Pria

Posted by omrudy in


Bagi pria, sikap yang hangat dari pasangan lebih romantis dibandingkan kata-kata manis. Mereka memang lebih menyukai bentuk kasih sayang yang nyata. Ada hal yang mungkin bagi Anda sederhana, tetapi bagi pria sangat romantis dan istimewa.

Berikut empat hal yang dilakukan wanita dan sangat romantis di mata pria.

1. Berdandan

Saat ingin pergi bersama pasangan, banyak wanita yang sengaja menggunakan baju baru dan berdandan khusus. Meskipun bagi Anda mungkin hal biasa, tetapi menurut pria, hal tersebut sangat romantis. Persiapan Anda, mulai dari memilih baju, menggunakan riasan, memilih sepatu merupakan proses yang disukai pria, apalagi jika Anda meminta pendapatnya.

"Saat pria melihat pasangannya berdandan untuknya, ia merasa sangat dihargai. Sebenarnya fungsi berdandan bukan hanya untuk mempercantik diri tetapi menunjukkan rasa cinta dan penghargaan seorang wanita pada pasangannya," kata Barbara De Angelis, Ph.D., penulis buku 'Secrets About Men Every Woman Should Know', seperti VIVAnews kutip dari Red Book.



2. Menyentuhnya saat lelah

Bagi pria sentuhan pasangan merupakan obat apalagi saat ia merasa lelah atau stres dengan pekerjaan. Wanita memang sering mengungkapkan rasa sayang melalui sentuhan hangat dan lembut seperti mengelus punggung, pipi ataupun sekedar mengelus tangan. Hal itu bagi pria merupakan suntikan semangat dan sangat menenangkan.

3. Memberikan waktu untuknya

Pria juga membutuhkan waktu untuk melakukan hobi atau sekedar berkumpul dengan teman-temannya. Bagi pria, saat Anda dengan senang hati membiarkannya berkumpul dengan teman-temannya tanpa mengganggunya melalui sms atau telepon, merupakan hal yang romantis. Mereka menggangap Anda percaya sepenuhnya. Justru dengan memberikan waktu untuknya, Anda membuat hubungan lebih sehat.

4. Mengingatkan


Telepon atau sms Anda untuk sekedar mengingatkannya makan buah, minum vitamin dan hal kecil lainnya, sangat berarti bagi pria. Mereka akan merasa diperhatikan apalagi Anda mengingatkannya ditengah kesibukan pekerjaan.

sumber: http://id.news.yahoo.com


Copyright © Tidak tercantum di Blogger. Tidak dapat diakses mesin telusur. | Powered by Blogger
Design by N.Design Studio | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com